Soy Tu Duena Episodes and Clips, Watch Soy Tu Duena Videos Free Soy tu dueña capitulo Movie Telenovela Amor Real.

Pages

Sunday, November 25, 2007

cupikan


Dua Puluh Empat Agustus Dua Ribu Enam"

Bu, sekarang hari sabtu kan..?Aku mau ketemu ayah, kangen
buuu..!!!”
Itulah sepenggal kalimat yang kerapkali diucapkan anak itu.
Bocah laki laki, berusia 7 tahun
Entah sudah berapa puluh kali aku tak sempat menghitungnya, ungkapan itu terlontar menjadi menu sarapan di Sabtu pagi.
Bergegas kumandikan dia, sejenak kemudian sudah siap dengan baju kebanggaannya
setelan Spider Man.:”.huuuupp....siaaapp bu, cepetaaaannn,celotehnya.”.
Tidak berapa lama, seorang laki laki sudah menyongsongnya.
Tidak turun dari mobil, cukup hanya dengan satu pijita di klakson nya, bocah yang wajahnya ceria itu, secepat kilat sudah berada di sampingnya...
Tak ada kata yang terucap dari bibir lelaki itu, sedikit ujung bibirnya terangkat, matanya yang bulat, memberikan sejuta isyarat..Ahh betapa sulit memaknai nya..
Dan....wuuuuuuuuuuuuussshhhh, dibiarkannya aku sendiri terpana, tapi tidaaak, masih terlampau banyak pekerjaanku hari ini..

Hingga siang berganti petang lalu malampun datang, aku masih disibukan oleh segala aktifitas, masih asik, sampai kemudian bunyi hp memanggilku. Suara yang sudah tidak asing sedikit mengejutkanku : “Kami mau nginap di luar..!!”
Dan sebelum aku menjawabnya, hp itu sudah ditutup,..Aku terdiam.
Tidak ada kehawatiran, ah biarlah lelaki itu sudah faham, apa yang harus dilakukan dan apa saja yang dibutuhkan oleh bocah itu..

Keesokan harinya, Minggu pukul empat sore, aku dikejutkan oleh teriakan anak itu...”Buuuu, aku pulang, ini bantuin dong bu, beraaat, katanya”
Kusongsong dia, kuciumi : “Duuuuuhh anak ibu, koq perginya lama lama, pake nginap lagi...?”.Dia tidak mengacuhkan pertanyaanku, malahan asyik dengan mainan barunya..
Kutoleh lelaki itu barangkali masih ada di luar, suara mobilnya pun sudah tidak terdengar.Tak sepatah katapun terucap dari mulutnya, entah apapun itu.
Dan aku sudah sangat terbiasa..

Kurapikan tas yang barusan kubawa, lalu kubuka satu persatu, satu stel baju tidur bekas dipakai semalam, alat alat mandi, tiga stel pakaian semuanya serba baru, beberapa batang coklat dan makanan ringan lainnya..
Penasaran kubuka dan kukeluarkan semua isi tasnya, dan tiba tiba aku terhenyak, ada sebuah amplop putih, pasti ini surat, tumben..aku fikir..

“Maafkan aku, ini adalah hari terahir aku bisa bersamanya. Aku tidak bisa katakan apakah aku akan kembali atau tidak, biarlah waktu yang akan menjawab.
Besok pagi jam 10 aku sudah take off.....”
Kubaca berulang kali tulisan itu, tapi isinya masih tetap sama.
Tiba tiba ada rasa sakit yang teramat sangat mencabiku
Kusapu air mata yang tiba tiba merembes membasahi kelopak mata, membasahi hampir seluruh permukaan wajahku...
Apakah aku harus meneleponnya dan cukup berkata : “Please Don’t Go..!!”
Lalu dia akan tersenyum bangga karena keinginannya sudah terpenuhi...atau...
akan kubiarkan keangkuhan ini tetap tertimbun hingga menjadi bebatuan yang makin keras dan kaku... ..?

Setahun kemudian,....
Suatu hari,
Sepucuk surat mengagetkan ku....
“ Besok aku akan pulang ke Jakarta, sudah ada pengganti mu di sana, dan kami akan menikah minggu depan.Aku akan memulai kehidupan baruku, titip “anakku” .
Dan jangan katakan padanya bahwa aku kembali, karena ini akan lebih menyakitkan dia..”

Aku terpana, sejenak kemudian kupandangi ticket penerbangan besok jam 10
Kupandangi tas pakaian yang sudah berjejer.
Kupandangi anak itu dari kejauhan.
Tanpa rasa sakit dan tanpa air mata.
Kupandangi semuanya...
Aku terdiam dan terpaku
Di ruangan depan terdengar celotehan anaku yang tengah bermain dengan temannya
“ Besok aku akan bertemu ayah, mau terbang naik pesawat”


Inspirasiku : Ragam Raihan Sastrawiguna




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...